Belajar SKI bersama bu Santi
Tokoh besar dalam Kebudayaan Islam perjuangan serta perjalanan hidupnya, selalu menginspirasi kita disaat ini disini, dan sekarang.
Saya seorang guru Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Negeri 2 Kota Pekanbaru
- Santi HY
- "Sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW, kita harus selalu ingat bahwa panutan kita itu bukan pencaci, bukan pencela dan bukan orang yang kasar"
Senin, 22 Januari 2024
Selasa, 12 September 2023
Misi dan Strategi Dakwah Rasulullah Saw di Mekah
Nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah Swt. menyampaikan dakwah kepada umatnya. Dalam menyampaikan dakwahnya, beliau mempunyai misi-misi dakwah yang berisi dengan ajaran- ajaran Islam yang akan merubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi bangsa yang beriman kepada Allah Swt., memiliki akidah dan akhlak, serta memiliki ilmu dan pengetahuan tentang Islam sehingga melahirkan keturunan yang berakal dan berbudi pekerti sesuai dengan syariat Islam. Adapun misi-misi dakwah tersebut adalah sebagai berikut.
1. Mengajarkan Ketauhidan
Masyarakat Arab jahiliyah meyakini berbagai Tuhan (Politeisme), seperti penyembahan berhala, penyembahan bulan dan bintang, penyembahan jin, roh, dan arwah nenek moyang, ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Nabi Muhammad saw. datang membawa ajaran tauhid, yaitu mengesakan Allah Swt., tidak ada Tuhan selain Allah Swt., tidak beranak dan diperanakkan. Begitu juga dengan kebudayaan Arab pra-Islam sangat dipengaruhi oleh mitologi dan ajaran-ajaran sesat lainnya, sedang Islam membawa peradaban atau kebudayaan baru berdasarkan petunjuk Allah Swt. dan Al-Qur’an.
Rasulullah saw. berdakwah merubah perilaku jahiliyah masyarakat Arab hingga menjadi bertauhid kepada Allah Swt.. Perilaku jahiliyah bukan berarti bodoh dalam intelektual, melainkan bodoh terhadap keimanan kepada Allah Swt., mereka menyembah patung- patung dan cenderung berperilaku merusak tatanan sosial. Sebelum datangnya Islam, sudah hal biasa apabila terjadi perjudian, minum-minuman keras, perampokan, perzinahan, dan perbuatan yang melanggar hukum lainnya. Sehingga Nabi Muhammad saw. mengajarkan perilaku terpuji, seperti menolong sesama, menghormati hak asasi orang lain, melarang mabuk-mabukan, mengangkat derajat wanita, dan mengajarkan kepada mereka akan kesamaan derajat antara laki-laki dan perempuan, hanya takwa yang membedakannya.
2. Membangun Manusia yang Berakhlak Mulia
Pada tahun 611 M, Muhammad berusia 40 tahun beliau menerima wahyu yang pertama, di Gua Hira yang terletak di Jabal Nur (letaknya beberapa kilometer sebelah utara Kota Mekah). Setiap tahun sepanjang bulan Ramadan, Muhammad pergi ke sana dan berdiam di tempat itu. Ia tekun dalam merenung dan beribadah, menjauhkan diri dari segala kesibukan hidup dan keributan manusia. Ia merenungkan rusaknya perilaku sehari-hari masyarakat Arab saat itu. Demikian kuatnya ia merenung mencari hakikat kebenaran itu, sehingga lupa ia akan dirinya, lupa makan, lupa segala yang ada dalam hidup ini. Sebab, segala yang dilihatnya dalam kehidupan manusia sekitarnya, bukanlah suatu kebenaran. Ia merenung untuk mencari jawaban mengenai perilaku masyarakat dalam masalah- masalah hidup. Apa yang disajikan sebagai persembahan untuk Tuhan mereka itu, bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan menurut rasio dan nurani yang jernih.
Berhala-berhala yang tidak berguna, tidak menciptakan, dan tidak pula mendatangkan rezeki, tak dapat memberi perlindungan kepada siapapun yang ditimpa bahaya tidak selayaknya dipuja dan disembah. Hubal, Lata, ‘Uzza, dan semua patung-patung dan berhala-berhala yang terpancang di dalam dan di sekitar Kakbah, tak pernah menciptakan
seekor lalat sekalipun, atau akan mendatangkan suatu kebaikan bagi Mekah. Ketika itulah ia percaya bahwa masyarakatnya telah tersesat, jauh dari kebenaran. Keyakinan mereka terhadap keberadaan Allah Swt. telah rusak karena tunduk kepada berhala-berhala serta kepercayaan-kepercayaan semacamnya. Kebenaran itu ialah Allah Swt., tak ada Allah Swt selain Dia. Kebenaran itu ialah Allah Swt. Pemelihara semesta alam. Dialah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Nabi Muhammad saw. mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari harta, keturunan, suku, keindahan tubuh, kekuatan, maupun pangkat dan jabatannya dalam masyarakat. Namun kemuliaan manusia terletak pada kemuliaan akhlaknya dan ketaatannya kepada Allah Swt., baik berupa sikap, perkataan, maupun perbuatannya dalam kehidupan sehari-hari. Padahal ketika itu masyarakat Arab sangat menonjolkan keturunan dan sukunya. Mereka sering berselisih, bertengkar bahkan berperang agar sukunya menjadi yang paling terhormat di antara yang lain. Mereka juga sangat membanggakan harta dan kedudukan. Semakin banyak harta dan memiliki banyak budak, maka mereka merasa menjadi mulia.
Setelah menjadi rasul, Nabi Muhammad saw. memberikan ajaran yang sangat mulia bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat dan dapat bermanfaat bagi orang lain. Padahal perilaku masyarakat Quraisy saat itu seringkali menyengsarakan orang lain, mereka semena-mena terhadap orang-orang miskin apalagi terhadap budak-budak mereka. Betapa beratnya tugas Nabi Muhammad saw. untuk membina manusia agar berakhlak mulia ketika kondisi akhlak masyarakatnya sudah buruk. Namun semua itu dilakukan beliau dengan penuh kesabaran dan dengan cara memberi teladan. Karakter yang paling menonjol dari kepribadian Nabi Muhammad saw. adalah akhlak yang tiada bandingnya. Akhlak Nabi Muhammad saw. sangat agung dan melebihi semua akhlak manusia mana pun.
Akhlak Nabi Muhammad saw. adalah keistimewaan kepribadiannya yang terbesar. Hal ini menunjukkan, seakan-akan beliau sendiri membatasi tugas risalahnya dengan sabdanya, “Aku ini diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Kenyataannya, kita tidak dapat mengambil gambaran yang utuh tentang akhlak Nabi Muhammad saw. kecuali jika kita memahami Al-Quran dan hadis serta hal-hal yang berkaitan dengan sejarah hidupnya. ‘Aisyah, menggambarkan akhlak Nabi Muhammad saw. dengan perkataannya, bahwa akhlak Nabi Muhammad saw. itu adalah Al-Quran. Artinya, bahwa semua ketentuan yang ada dalam Al-Quran merupakan cerminan dari akhlak Nabi Muhammad saw.
1. Menyampaikan tentang Adanya Hari Kiamat sebagai Hari Pembalasan
Sebelum Islam datang, masyarakat Arab tidak mengetahui dan tidak pula memercayai adanya hari pembalasan atau hari kiamat. Hari kiamat adalah hari dihancurkannya bumi dan seisinya. Mereka tidak percaya bahwa manusia yang sudah meninggal dapat dibangkitkan kembali, karena sudah menjadi tulang dan rata dengan tanah. Mereka hanya hidup untuk dunia dan tidak memercayai akan kehidupan akhirat. Sehingga Nabi Muhammad saw. memprioritaskan dakwahnya untuk mengajak mereka memercayai adanya hari kiamat sebagai hari pembalasan, semua orang akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan yang ia lakukan di dunia. Nabi Muhammad saw. berusaha meyakinkan mereka bahwa janji Allah Swt. kepada orang-orang yang beriman, akan dimasukkan ke dalam surga, dan orang-orang kafir akan menerima balasannya di neraka
2. Mengubah Perilaku Masyarakat Jahiliyah
Kehidupan sosial masyarakat Arab pra Islam dikenal dengan masa jahiliyah. Pada masa itu, masyarakat masih belum mengetahui tentang sifat-sifat mulia, sehingga sifat dan perilaku mereka sangat menyimpang dan melanggar norma-norma sosial. Perjudian, meminum minuman keras, merampok, berzina adalah hal yang sudah tidak asing di tengah-tengah masyarakat Arab pada saat itu. Sehingga Allah Swt. mengutus Nabi Muhammad saw. untuk merubah mereka dari jahiliyah menuju jalan kebenaran Islam. Islam mengajarkan kepada kebaikan, akhlak terpuji, dan semua hal yang dilakukan bangsa Arab pada zaman jahiliyah adalah hal yang dilarang oleh Islam. Islam melarang minumminuman keras dan berjudi karena hukumnya haram, melarang melakukan perzinahan, atau mengambil barang dan hak orang lain
3. Berlaku Baik dan Memuliakan Manusia
Dakwah yang dilakukan Rasulullah saw. sejatinya sudah tersirat semenjak kecil. Nabi Muhammad saw. semenjak kecil dikenal sebagai anak yang sangat mulia akhlaknya. Sikap sederhana, berwibawa, dan perilaku baik lainnya melekat terhadap dirinya. Nabi Muhammad saw. juga dikenal sebagai orang yang jujur dalam setiap perkataan maupun perbuatannya., sehingga mendapatkan julukan al-Amin yang berarti dapat dipercaya atau jujur
Sifatnya yang jujur tersebut juga sangat berbeda dengan kebanyakan orang Mekah yang suka berbohong, membual, dan sulit dipercaya. Setiap bertemu orang selalu tersenyum. Pada saat-saat tertentu juga bercanda dan terkadang tertawa sampai terlihat gerahamnya. Bila ia marah tidak pernah sampai tampak kemarahannya, hanya antara kedua keningnya tampak sedikit berkeringat, hal ini disebabkan ia menahan rasa amarah dan tidak mau menampakkannya keluar. Semua itu terbawa oleh kodratnya yang selalu lapang dada, berkemauan baik dan menghargai orang lain. Ia bijaksana, murah hati, dan mudah bergaul. Tapi ia juga mempunyai tujuan pasti, berkemauan kuat, tegas, dan tak pernah ragu-ragu dalam tujuannya. Sifat-sifat demikian ini berpadu dalam dirinya dan meninggalkan pengaruh yang dalam sekali pada orang-orang yang bergaul dengan dia. Bagi orang yang melihatnya tiba-tiba, sekaligus akan timbul rasa hormat, dan bagi orang yang terbiasa bergaul dengannya akan timbul rasa cinta kepadanya.
4. Membawa Kedamaian
Melihat dari sifat dan perilaku masyarakat Mekah yang melenceng dari akidah Islam, seperti merampok, berjudi, minum minuman keras, dan sebagainya sehingga kehidupan mereka identik dengan pertengkaran dan permusuhan, serta jauh dari kedamaian. Oleh karena itu Nabi Muhammad saw. menyebarkan kedamaian agar sifat dan perilaku serta kebiasaan buruk mereka berubah menjadi cinta kedamaian. Dapat dikatakan bahwa akhlak Islam adalah perdamaian. Untuk itu Nabi mengajarkan kepada kita untuk menghidupkan persaudaraan atau silaturahmi. Oleh karena itu umat Islam hendaknya memiliki sikap cinta damai, menjalin silaturahmi kepada keluarga dan sanak saudara, serta menjalin komunikasi dan berbuat baik kepada siapa saja tanpa memperhatikan status sosial, karena pada dasarnya manusia memiliki derajat yang sama di mata Allah Swt.
5. Memberikan Teladan yang Baik kepada Manusia
a. Kasih sayang
Orang yang sering terjun di medan perang serta para penguasa biasanya memiliki hati yang keras dan tabu mengeluarkan air matanya. Jarang sekali orang yang terjun di bidang itu memiliki sifat kasih sayang. Akan tetapi, Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya tidak termasuk golongan ini. Meskipun mereka terkenal sebagai orangorang yang perkasa, pemberani, keras, tegar, dan serius, namun semua itu sama sekali tidak pernah menutupi sifat kasih sayang mereka. Nabi Muhammad saw. menangis dalam berbagai kesempatan karena sifat rahmat dan kasih sayangnya. Beliau adalah orang yang paling sabar. Beliau juga tentara yang tiada tertandingi ketegarannya. Hatinya luluh mengucurkan kasih sayangnya hingga menangis dan meneteskan air matanya, bahkan suara tangisnya terdengar
a. Kedermawanan
Kedermawanan Nabi Muhammad saw. tidak akan tertandingi oleh siapa pun. Allah Swt. telah menetapkan seperlima harta rampasan untuk Nabi Muhammad saw. dan jatah beliau adalah seperlima dari yang seperlima itu. Kaum Muslimin telah mendapatkan harta rampasan yang sangat banyak. Sekiranya Nabi Muhammad saw. mau mengumpulkan harta, tentu beliau sudah menjadi orang terkaya. Dikisahkan, seperlima harta rampasan Perang Hunain sejumlah 8.000 ekor kambing, 4.800 ekor unta, delapan ribu uqiyah (sekitar 30 gram) perak, dan 1.200 tawanan. Seperlima bagian untuk Nabi Muhammad saw., dua perlima untuk kerabat beliau. Bayangkan berapa kekayaan beliau sekiranya beliau mau mengumpulkan harta dari semua perangnya.
b. Kesabaran
Kesabaran Nabi Muhammad saw. terlihat dalam setiap kehidupan yang dihadapi, misalnya dalam menghadapi tekanan, siksaan, gangguan, pemboikotan, pelecehan, jawaban yang menyakitkan, dan penghinaan dari musuh-musuhnya (kaum Quraisy). Segala cobaan yang menimpa Nabi Muhammad saw. juga menimpa para sahabat. Sikap sabar Nabi Muhammad saw. dalam medan perang sangatlah menonjol, seperti yang terlihat dalam Perang Uhud dan Perang Khandaq. Di saat golongan terkuat pun hancur di dalamnya, beliau tetap tegas dalam menghadapinya tanpa putus harapan. Nabi Muhammad saw. tiada henti-hentinya menebarkan kesabaran di tengah-tengah pengikutnya pada saat-saat yang genting dalam dua perang tersebut. Umat Islam pada waktu itu benar-benar diuji kesabarannya. Ternyata sebagian dari mereka tidak mampu menghadapi saat-saat yang genting tersebut, mereka tidak sabar seperti yang ditunjukkan Nabi Muhammad saw
c. Rendah Hati dan Kesederhanaan
Suatu kali Nabi Muhammad saw. melakukan perjalanan bersama para sahabat. Mereka hendak mempersiapkan makanan, maka beliau membagi tugas di antara mereka. Beliau bangkit mengumpulkan kayu bakar. Mereka mencegahnya, namun beliau tidak mau, karena Allah Swt. membenci orang yang merasa lebih dibanding teman-temannya. Nabi Muhammad saw. tidak suka pujian dan julukan. Dalam kesederhanaan itu, beliau sangat rendah hati, sangat santun, memulai salam kepada orang lain, menghadapkan seluruh badannya kepada orang yang berbicara dengannya, baik besar maupun kecil, dan yang terakhir melepaskan tangan jika berjabat tangan. Jika bersedekah, beliau meletakkan sedekah itu di tangan si miskin, duduk bersama para sahabatnya
Nabi Muhammad saw. juga sederhana dalam berpakaian dan tempat tinggal. Beliau memenuhi undangan siapa pun, baik orang merdeka maupun hamba sahaja, orang besar maupun kecil, dan orang kaya maupun miskin. Beliau menambal pakaiannya dan menjahit sandal dengan tangannya sendiri, melayani sendiri dan mengikat untanya, makan bersama pembantu, serta memenuhi kebutuhan orang lemah dan sengsara. Itulah lima akhlak dasar Nabi Muhammad saw. yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Dunia mengakui bahwa tidak ada keluhuran moral dalam seluruh dimensi dan bagianbagiannya sebagaimana yang dikenal dalam diri Nabi Muhammad saw.. Kalaulah seseorang ingin meniru atau mencontoh satu akhlak beliau, niscaya dia tidak akan mampu
d. Kemurahan Hati
Nabi Muhammad saw. memiliki kemurahan hati yang sempurna. Beliau marah demi kebenaran dan juga apabila hal-hal yang halal dan haram dilanggar. Jika sedang marah, maka tidak ada yang dapat menghalanginya sehingga beliau menghancurkan kebatilan sampai ke akar-akarnya. Nabi Muhammad saw. adalah orang yang paling toleran terhadap orang yang tidak mengerti etika bicara dan tidak sopan terhadap beliau yang mungkin masih bisa diperbaiki. Kemurahan hati Nabi Muhammad saw. dilakukan ketika sebenarnya beliau mampu untuk menekan, membunuh, dan menteror
B. Rasulullah Saw sebagai Rahmat bagi Seluruh Alam
Berikut ini merupakan beberapa tugas Nabi Muhammad saw. yang menjadi bukti bahwa beliau merupakan rahmat bagi alam semesta. Nabi Muhammad selain bertugas menyampaikan risalah, beliau juga menjadi pelindung bagi umat, memimpin umat, pemegang keadilan, pembawa kabar gembira, dan sebagainya. Adapun penjelasannya yaitu sebagai berikut.
1. Nabi Muhammad saw. sebagai Penerang Isi Kandungan Al-Qur’an
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk disampaikan kepada umat manusia sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam hidup. Nabi Muhammd saw. bertugas untuk memberikan penjelasan terhadap ayat Al-Qur’an sehingga umat manusia dapat memahami isi kandungan di dalam Al-Qur’an.
2. Nabi Muhammad saw. adalah Seorang Rasul dan Pelindung
Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 164 yang artinya: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah”. (QS. Ali Imran [3]: 164) Tugas Nabi Muhammad saw. adalah menyampaikan risalah dari Allah kepada umatnya. Beliau selalu melindungi orang yang berbuat benar dan terutama kepada orang yang berbuat kebenaran
3. Nabi Muhammad saw. sebagai Pemimpin Umat
Nabi terdahulu sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw., diutus untuk kaum tertentu pada masanya saja. Berbeda dengan Nabi Muhammad saw., beliau diutus untuk seluruh umat manusia dari zamannya sampai manusia di akhir zaman. Sebagai pemimpin umat, Nabi Muhammad saw. selalu mengajarkan prinsip dan ajaran yang luhur bagi umat manusia yang tidak pernah bertentangan dalam kehidupan.
4. Nabi Muhammad saw. sebagai Penegak Keadilan
Allah Swt. mengutus Nabi Muhammad saw. agar menjadi rasul, pemimpin, serta hakim bagi umat manusia. Bila salah satu sahabat atau umat Islam pada saat itu yang melakukan kesalahan atau meminta keadilan kepada Nabi Muhammad saw., maka beliau akan memberikan keadilan sesuai kebenaran yang ditentukan Allah dalam Al-Qur’an, sehingga umat manusia akan merasakan keadilan, yaitu orang yang benar dibela dan orang yang bersalah hendaknya diberi hukuman atas kesalahannya.
5. Nabi Muhammad saw. sebagai Pelaksana Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar
Allah berfirman dalam surah al-A’raf ayat 157, yang artinya: “...(Rasul memerintahkan mereka mengerjakan yang ma‘ruf dan melarang mengerjakan yang munkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka...”. (QS. al-A’raf [7]: 157) Selain memerintahkan agar umatnya berbuat makruf dan menjauhi yang mungkar, sebelumnya beliau telah mencontohkannya, yaitu dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
6. Nabi Muhammad saw. sebagai pembawa berita gembira
Nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah Swt. membawa kabar atau berita gembira. Berita gembira yang dimaksud yaitu bahwasanya setiap perbuatan manusia di dunia ini akan mendapat balasan di akhirat kelak. Perbuatan baik akan dibalas pula dengan kebaikan oleh Allah Swt., begitu pula sebaliknya, keburukan akan dibalas dengan siksa di akhirat kelak, dan janji Allah Swt. pasti akan ditepati.
7. Mengatur Perekonomian
Nabi Muhammad saw. adalah seorang pembaharu dalam bidang perekonomian. Pada saat usianya masih memasuki 20 tahun, beliau telah membuat perjanjian damai dalam urusan perdagangan yang disebut dengan “Hilf Al-Fudul”. Tujuannya antara lain untuk membantu orang-orang lemah dan teraniaya agar tidak dirugikan dalam perdagangan, serta membantu fakir miskin dalam meningkatkan perekonomian masyarakat Mekah. Sebelumnya ekonomi bangsa Arab dikuasai oleh sekelompok orang yang mempraktikkan riba. Karena itulah, Islam kemudian mengharamkan riba. Sistem ekonomi Islam dibangun untuk membantu kaum miskin, yakni dalam bentuk zakat, sedekah, dan sejenisnya. Hukum waris harus diterapkan dan dijalankan oleh setiap muslim agar harta peninggalan dapat dibagi secara adil dan tidak terkumpul di tangan beberapa orang saja
8. Membawa Pencerahan
Kehadiran Nabi Muhammad saw. dengan membawa agama Islam di tengah-tengah peradaban umat manusia memberikan hikmah yang sangat besar bagi manusia dan dunia pada umumnya. Peperangan yang terus-menerus terjadi di Jazirah Arab terhenti dengan datangnya Islam. Untuk pertama kalinya bangsa Arab merasakan kedamaian dan ketenteraman di bawah naungan Islam. Sebelum kedatangan Islam, bangsa Arab tidak pernah merasakan keamanan dan kedamaian. Perampokan dan pembunuhan hampir setiap hari menghiasi kehidupan mereka. Perzinaan juga merupakan suatu hal yang biasa. Dahulu seorang perempuan yang sudah resmi menjadi seorang istri diizinkan oleh suaminya untuk berhubungan dengan laki-laki lain untuk mendapatkan keturunan yang lebih baik. Di samping itu, banyak orang tua yang membunuh anak perempuannya karena kehadiran anak perempuan dianggap aib keluarga. Alhasil bangsa Arab pada waktu itu
sangat merendahkan martabat kaum perempuan. Bangsa Arab juga mentradisikan perbudakan, mereka memperlakukan budak secara tidak manusiawi
GLOSARIUM
Misi : perutusan yang dikirimkan oleh suatu negara ke negara lain untuk melakukan tugas khusus dalam bidang diplomatik, politik, perdagangan, kesenian, dan sebagainya
Dakwah : penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama
Rahmat : belas kasih, kasih sayang, perdamaian
Hilf Al-Fudul : sebuah persekutuan para pemuka di Mekah, termasuk Muhammad muda, yang terjadi
pada abad ke-7 sebelum masa kenabian. Persekutuan ini diadakan untuk menjaga
ketertiban dan keadilan dalam perdagangan, yang menjadi urat nadi kehidupan penduduk
Mekah
DAFTAR PUSTAKA
A. Syalabi.1970. Sejarah dan Kebudayaan Islam, terj. Muchtar Yahya. Jakarta: Djaya Murni. Al-Habib Alwi bin Thahir al- Haddad. 1995.
Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, terj. S. Dhiya Shahab. Jakarta: Lentera Sasritama.
Ali Mufrodi. 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos. Drs. Fadhil Sj M.Ag. 2008. Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah. Malang: Sukses Offset.
Fadhil Sj M.Ag. 2008.
Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah. Malang: Sukses Offset. Jaih Mubarok. 2004. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Muhammad Husain Haekal. 1997.
Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya. Muhammad Ridha.1987. Tarikh al-Insaniyah wa Abtaluha. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.
Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: LESFI
-
Nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah Swt. menyampaikan dakwah kepada umatnya. Dalam menyampaikan dakwahnya, beliau mempuny...